Tampilkan postingan dengan label Bahasa Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Salam dan Ungkapan Dalam Bahasa Jepang

Ohayoo gozai masu = Selamat pagi (sopan)
Ohayoo = Selamat pagi (biasa)
Kon' nichiwa = Selamat siang / hai
Kon bawa = Selamat malam
Oyasumi nasai = Selamat tidur / malam
Otsukaresama desu = Selamat bekerja
Sayoonara = Sampai jumpa lagi
Jaa, mata ashita = Ya, Sampai besok
Bai bai = Selamat tinggal
Arigatoo = terima kasih (biasa)
Arigatoo Gozai masu = terima kasih (sopan)
Doo itashi mashite = Terima kasih kembali/Sama-sama
Sumi masen = mohon maaf (Sopan)
Gomen masen = mohon maaf (biasa)
Gomen = Maaf (biasa)
Mooshiwake ari masen = Mohon maaf (sangat sopan)
Itadaki masu = Selamat makan
Gochisoosama deshita = terima kasih untuk hidangannya

Dari berbagai sumber

Jumat, 16 September 2016

Angka Dan Sistem Pehitungan Dalam Bahasa Jepang

Bahasa Jepang pada zaman dahulu (dan dalam jumlah yang cukup terbatas pada zaman sekarang) menggunakan angka-angka Tionghoa, yang dibawa ke Korea dan sampai ke Jepang. Setelah Kekaisaran Jepang mulai dipengaruhi oleh Eropa, angka-angka Arab mulai digunakan secara besar-besaran, dan hampir mengganti sepenuhnya kegunaan angka Tionghoa ini.

Dalam penggunaannya di dalam bahasa Jepang, dan untungnya juga agak mirip di bahasa Indonesia, angka-angka ini tidak bisa digunakan seperti itu saja untuk menyatakan sebuah jumlah dari sebuah barang, waktu dan sebagainya. Pertama-tama jenis barangnya harus dipertimbangkan, lalu ukurannya dan akhirnya jumlahnya. Cara berhitung untuk waktu dan tanggal pun berbeda-beda, maka satu hal yang harus dilakukan adalah menghafalkan cara angka-angka ini bergabung dengan satuannya.

Cara menghitung barang
Barang secara umum
Untuk mengucapkan 1 buah yaitu hitotsu dan seterusnya menambahkan huruf tsu

Barang panjang
Untuk mengucapkan 1 buah barang panjang (meteran) misal ippon. Biasa dipakai untuk menghitung jumlah pensil, botol, pohon

Barang tipis
Hanya perlu angka biasa ditambahi satuan mai sebagai akhiran. Misal 1 lembar : ichi mai, dst. Bisa digunakan untuk menghitung jumlah kertas, baju, perangko, dan benda tipis lainnya.

Barang besar
Hanya perlu angka biasa ditambahi satuan dai sebagai akhiran. Misal  1 buah : ichidai. Bisa digunakan untuk menghitung jumlah barang elektronik yang besar, atau barang besar pada umumnya, seperti televisi, kulkas, rumah, mobil dan sebagainya.

Cara menghitung orang
Untuk mengucapkan seorang dan seterusnya menggunakan angka biasa ditambahi satuan nin, misalnya 3 orang (sanin) 7 orang (shichinin).

Dari berbagai sumber

  
 

Minggu, 11 September 2016

Belajar Bahasa Jepang

Bahasa Jepang merupakan bahasa resmi di negara Jepang dengan jumlah penutur sekitar 127 Juta jiwa. Bahasa Jepang juga digunakan oleh sejumlah penduduk di negara yang pernah ditaklukannya, seperti Korea dan Republik Cina. Bahasa Jepang juga dapat didengar di Amerika Serikat (California dan Hawaii) dan Brazil akibat emigrasi orang Jepang ke sana. Namun keturunan mereka yang disebut nissei (generasi kedua) tidak lagi fasih dalam bahasa Jepang.

Bahasa Jepang terbagi kepada 2 bentuk yaitu Hyoujungo (penuturan standar) dan Kyoutsugo (penuturan umum). Hyoungjungo adalah bentuk yang diajarkan di sekolah dan digunakan di televisi dan segala hubungan resmi.
Lafal Vokal dalam bahasa Jepang
Bahasa Jepang mempunyai 5 huruf vokal yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/
Lafal vokal bahasa Jepang mirip bahasa Melayu, contohnya :
  • /a/ seperti pada bapa
  • /i/ seperti pada ibu
  • /u/ seperti pada urut
  • /e/ seperti pada esok
  • /o/ seperti pada obor 
Tulisan Bahasa Jepang
Tulisa Bahasa Jepang berasal dari tulisan bahasa China yang diperkenalkan pada abad keempat masehi. Sebelumnya, orang Jepang tidak mengenal sistem penulisan sendiri.
Tulisan Jepang terbagi tiga :
  • Aksara Kanji yang berasal dari China
  • Aksara Hiragana
  • Aksara Katakana
Aksara Hiragana dan Katakana keduanya berunsur dari tulisan Kanji dan dikembangkan pada abad ke delapan masehi oleh rohaniawan Budha untuk membantu melafalkan karakter-karakter China.
Aksara Hiragana dan Katakana keduanya biasa disebut Kana dan keduanya terpengaruh fonetik bahasa Sansakerta. Hal ini bisa dilihat dalam urutan aksara Kana. Selain itu, ada pula sistem alih aksara yang disebut romaji.
Bahasa Jepang yang kita kenal sekarang ini ditulis dengan menggunakan kombinasi aksara Kanji, Hiragana dan Katakana. Kanji dipakai untuk menyatakan arti dasar dari kata (baik berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata sandang). Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari kata tersebut dan menyesuaikan dengan penuturan tata bahasa Jepang.
Kana 
Aksara Hiragana dan Katakana (keduanya biasa disebut Kana) memiliki urutan seperti dibawah ini, memiliki 46 set huruf masing-masing. Keduanya (Hiragana dan Katakana) tidak memiliki arti apapun, seperti abjad dalam bahasa Indonesia, hanya melambangkan suatu bunyi tertentu, meskipun ada juga kata-kata dalam bahasa Jepang yang terdiri dari satu suku kata, seperti me (mata), ki (pohon), ni (kedua), dsb. Abjad ini diajarkan pada tingkat pra-sekolah (TK) di Jepang.
Kanji
Banyak sekali kanji yang diadaptasi dari Tiongkok, sehingga menimbulkan banyak kesulitan dalam membacanya. Dai kanji jiten adalah kamus kanki terbesar yang pernah dibuat, dan berisi 30.000 kanji. Kebanyakan kanji sudah punah, hanya terdapat pada kamus dan sangat terbatas pemakaiannya, seperti pada penulisan suatu nama orang.
Oleh karena itu Pemerintah Jepang membuat suatu peraturan baru mengenai jumlah aksara kanji dalam Joyo Kanji atau kanji sehar-hari yang dibatasi penggunaannya sampai 1945 huruf saja. Aksara kanji melambangkan suatu arti tertentu. Suatu kanji dapat dibaca secara dua bacaan, yaitu Onyomi (adaptasi dari cara baca China) dan Kunyomi (cara baca asli Jepang). Satu kanji bisa memiliki beberapa bacaan Onyomi dan Kunyomi.

Tanda baca
Dalam kalimat bahasa Jepang tidak ada spasi yang memisahkan antara kata dan tidak ada spasi yang memisahkan amtara kalimat. Walaupun bukan merupakan tanda baca yang baku, kadang-kadang juga dijumpai penggunaan tanda tanya dan tanda seru di akhir kalimat.
Tanda baca yang dikenal dalam bahasa Jepang
  • Kuten, fungsinya serupa dengan tanda baca titik yakni untuk mengakhiri kalimat.
  • Toten, fungsinya hampir serupa dengan tanda baca koma yakni untuk memisahkan bagian-bagian yang penting dalam kalimat agar lebih mudah dibaca

Dari berbagai sumber