Tampilkan postingan dengan label Bahasa Suryani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Suryani. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

Bahasa Suryani Adalah Bahasa Aram Asiria

Bahasa Suryani atau bahasa Suriah (Lessana Suryaya) merupakan kelanjutan dari bahasa Aram Kuno dan bahasa Aram Kerajaan. adalah sebuah bahasa Aram Timur yang pernah digunakan di sebagian besar wilayah bulan sabit subur dan Arab bagian timur. Secara luas bahasa Suryani adalah semua bahasa Aram Timur yang digunakan oleh berbagai macam komunitas Kristen di Timur Tengah. Bahasa Suryani ditulis dengan Aksara Suryani.

Bahasa Suryani bukanlah bahasa Arab dialek Suriah/Siri, meski bahasa Suryani mempengaruhi bahasa Arab. Dengan demikian bahasa Suryani bukanlah bahasa resmi di negara Suriah, karena bahasa resmi negara Suriah adalah bahasa Arab. Bahasa Suryani merupakan bahasa yang saat ini digunakan oleh kaum minoritas Kristen Siria yang tinggal di sebelah timur Turki, sebelah utara Irak dan sebelah timur laut Suriah.

Istilah bahasa Suryani seringkalo diartikan bahasa Aram. Untuk itu penutur bahasa Suryani selalu mengidentikan bahasa Suryani sebagai bahasa Aram. Namun dari sisi ilmu bahasa, bahasa Suryani dengan bahasa Aram tidaklah sama. Bahasa Suryani adalah bagian dari bahasa Aram, yaitu bahasa Aram Timur modern.

Bahasa Suryani merupakan bahasa liturgi dari beberapa gereja Suriah, yaitu : Gereja Ortodoks Suriah, Gereja Katolik Suriah, Gereja Maronit, Gereja Koptik Khaldea, Gereja Timur Asiria dan Gereja Tua Timur.

Bahasa Aram Suriah (bahasa Suryani kuno) merupakan bahasa yang terdokumentasikan dengan baik, yang pernah menjadi Lingua Franca di seluruh wilayah bulan sabit subur. Bukti kuat bahwa bahasa ini merupakan bahasa tulis adalah terjemahan Alkitab yang berasal dari abad ke-2 Masehi. Untuk pertama kalinya, orang Yunani menamakan bahasa Aram yang digunakan dalam penerjemahan Alkitab ini sebagai bahasa Suryani. Orang-orang Kristen kemudian mengambil alih penamaan oleh orang Yunani tersebut bagi bahasa yang digunakannya.

Bahasa Suryani kuno dibagi menjadi dua, yaitu bahasa Suryani klasik dan bahasa Suryani pertengahan. Secara linguistik bahasa Suryani kuno digolongkan ke dalam bahasa Aram Pertengahan atau bahasa Aram Timur Pertengahan. Bahasa Suryani kuno merupakan bahasa Gereja yang berasal dari Edessa. Bahasa Gereja ini berkembang dalam berbagai dialek. Perkembangan dialek ini menggambarkan berbegai macam kelompok Gereja Suriah pada masa itu, misalnya kelompok Yakobi Suriah Barat dan kelompok Nestorian Suriah Timur. 

Dengan berkembangnya agama Islam sejak abad ke-8 Masehi, bahasa Suryani kuno semakin terpinggirkan. Pada sekitar tahun 1250, yaitu pada masa pendudukan Mongol, bahasa Suryani kuno tidak pernah digunakan lagi, melainkan mereka menuturkan bahasa Suryani baru yang disingkat menjadi bahasa Suryani.

Bahasa Suryani kuno sangat dipengaruhi oleh bahasa Yunani, khususnya kosa kata dan konstruksi kalimat. Pada tulisan Yakobi, beberapa huruf vokal Yunani digunakan sebagai tanda vokal.

Aksara Suryani adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan bahasa Aram, terutama bahasa Aram Suriah (Aram Syriac) pada abad ke-1 hingga abad ke-14. Abjad ini mirip dengan abjad-abjad Timur Tengah lainnya dan ditulis dari kanan ke kiri. Secara bentuk bisa dikatakan abjad Suryani merupakan bentuk antara abjad Ibrani dan abjad Arab. Biasanya abjad Suryani disebut Tulisan Estrangela Suryani. Kata estrangela berasal dari bahasa Yunani strongyle yang artinya adalah bulat. Aksara Suryani tidak digunakan lagi, namun Peshitta atau Alkitab dalam bahasa Suryani terutama cetakan keluaran Univesitas Leiden masih dicetak menggunakan abjad ini.


Bangsa Suryani identik dengan Dinasti Surya (tradisi Hindu), yakni sebuah nisbat kepada kerajaan-kerajaan kuno yang berpusat di Mesopotamia yang meliputi Sumeria, Akkadia, Asyiria, Babilonia. Hal ini dikarenakan pusat peradaban manusia awal berada di sana. Selanjutnya dari sana (mesopotamia) manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia membentuk peradaban-peradaban yang baru. Di Mesir mereka membentuk Kerajaan Firaun, dimana kebanyakan yang menjadi raja adalah keturunan Qibti bin Misraim bin Ham bin Nuh as. Di India  mereka membentuk kerajaan-kerajaan kuno di India, dimana kebanyakan yang menjadi raja mereka adalah keturunan Hind bin Kush bin Ham bin Nuh, begitu juga dengan wilayah lainnya.

Tentu saja bahasa Suryani yang dipakai oleh nabi Adam adalah bahasa Suryani purba. Yakni bahasa yang digunakan sebelum kerajaan-kerajaan tersebut terbentuk. Tulisan yang dipakai oleh keempat nabi tersebut tentulah berbeda dengan tulisan Suryani yang kita kenal saat ini.


Bahasa Suryani Purba lama-lama menjadi bahasa Mesopotamia. Bahasa Mesopotamia membentuk bahasa Semitik, Yafetik, dan Hamitik. Bahasa Semitik bercabang menjadi bahasa Suryani dan bahasa Aramaic. Dari bahasa Aramaic itulah bahasa Arab dan bahasa Ibrani muncul. Begitu juga dengan bahasa lainnya. Bahasa tersebut terbentuk karena adanya sebuah peradaban dalam sebuah masyarakat. Setiap kelompok masyarakat memiliki bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Meskipun demikian kita bisa melacak bahwa semua bahasa yang ada di dunia ini saling berkaitan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Simbol-simbol bahasa Suryani banyak digunakan dalam pembuatan wafaq atau pengisian ilmu hikmah. Seorang penganut ilmu hikmah untuk melaksanakan suatu keilmuan menggunakan 2 cara. Yang pertama dengan membaca ayat-ayat suci sebagai wiridan (dengan jumlah tertentu pada waktu tertentu). Yang kedua menggunakan ilmu hikmah yaitu melalui ayat-ayat yang dituliskan pada media tertentu atau biasa diistilahkan dengan ilmu rajah.

Ilmu rajah sendiri adalah ilmu esoteric yang rumit, intinya adalah bagaimana caranya mengakses energi tertentu melalui tulisan-tulisan atau kode-kode tertentu yang dituliskan pada media tertentu (kertas, kain, daun, emas, tembaga, dll) apabila sudah jadi dinamakan Wafaq. Rajah ada juga yang dituliskan pada bagian tertentu dari tubuh manusia atau di tubuh manusia dengan fungsi yang berbeda-beda. Alat penulisan rajah sangat beragam yaitu dari besi, tembaga, kayu, batu, kristal, tulang hewan, tinta Za'faron, misik, air mawar, dan sebagainya. Begitu luasnya seiring perkembangan zaman.

Pernahkah anda berpikir bagaimana tingginya makna dan tujuan dari suatu angka atau huruf maupun goresan dari sebuah rajah yang dijadikan sebuah azimat?

Menurut para ulama yang mashyur, wifik adalah rahasia rajah atau lambang huruf dan angka Arab maupun lambang yang masih terputus-putus sebelum terjadinya kitab-kitab, mulai dari nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, yang terdiri dari empat kitab : 1. Taurat, 2. Zabur, 3. Injil, 4. Al Qur'an. Empat kitab inilah yang diturunkan dan diterima para Nabi untuk kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Empat kitab tersebut sebelum dibukukan masih dalam keadaan terpisah-pisah. Kadang-kadang tertulis di batu-batu, di daun-daun, kulit-kulit kayu dan ada juga di bunga-bunga atau di pohon-pohon. Semua ini merupakan kekuasaan Tuhan yang ditunjukan pada umatNya agar umatNya mengetahui.  

Wifik adalah ilmu tentang huruf-huruf Al Qur'an yang setiap huruf mempunyai arti dan jumlah tertentu. Ilmu ini terdapat pada kitab-kitab Toriqoh. Kertas yang diwifiq huruf-huruf tertentu mempunyai arti atau perlambang ayat tertentu dari Al Qur'an untuk mendapatkan faedah dari ayat-ayat tersebut berkat izin Allah. Ada juga rajah abjad dengan huruf tangga berasal dari huruf Shyriani dan Ibrani. Semua huruf-huruf memiliki nilai yang sama dengan angka dan mengandung persamaan dengan simbol-simbol.

Dari berbagai sumber